Dunia Fira
'Berbagai Karya Tulisanku Ku Persembahkan Yang Terbaik'

Kamis, 19 Agustus 2010

Contoh Iklan Baris (MATERI PELAJARAN KELAS 9 SEMESTER 1 BAHASA INDONESIA)

Jual cepat HP koleksi pribadi lengkap,!! mulus, eks garansi resmi Nokia Indonesia sbb : Nokia E71 (1,8 jt) & Nokia R61i (1,350 jt), all nego. Peminat serius hubungi : 0818 08 788 766.

Fakta dalam iklan tersebut :

1. Nokia E71 (1,8 jt) & Nokia R61i (1,350 jt),
2. Hubungi :0818 08 788 766.

Seperempat Warga AS Yakin Obama Muslim

Hampir setiap satu dari empat warga Amerika Serikat yakin bahwa Barack Obama adalah Muslim, ungkap suatu jajak seperti dilaporkan Daily Mail.

Sebanyak 24 persen responden jajak tersebut menganggap bahwa Presiden AS Obama, yang bernama tengah Hussein, menganut Islam karena dia mendukung pembangunan masjid di dekat lokasi pengeboman 9/11 di New York.

Jajak dari Time yang diterbitkan kemarin juga mengungkapkan, 70 persen responden yakin bahwa pembangunan masjid itu akan menghina kenangan tentang para korban.

Dalam satu jajak lainnya, terungkap bahwa responden yang menjawab dengan benar, yaitu agama Obama adalah Kristen, turun menjadi 34 persen.

Sebanyak 43 persen responden mengaku tidak tahu agama Obama, hal ini meningkat dari angka 34 persen untuk pertanyaan serupa pada awal 2009.

Jajak lain tersebut diselenggarakan oleh lembaga nonpartisan Pew Research Center bersama afiliasinya, Pew Forum on Religion & Public Life. Jajak itu disusun berdasarkan wawancara sebelum kontroversi pembangunan masjid di sekitar lokasi World Trade Center.

Hasil jajak itu muncul seiring pembangun masjid bersikukuh menerima dana pembangunan dari Iran dan Arab Saudi.

Obama menyatakan bahwa Muslim memiliki hak yang sama untuk menjalankan agama yang dianut, tak berbeda dengan hak setiap orang yang berada di AS.

Masjid yang akan dibangun itu berada di alamat Park51, dahulu disebut Cordoba House. Pusat keagamaan itu akan dibangun untuk 13 lantai.

Buku Putih yang Kontroversial

Buku Putih Reformasi Sepak Bola Indonesia diharapkan akan menjadi awal dari kembalinya paradigma sepak bola Indonesia.

Itulah saudara-saudara, mari sekali lagi kita bangkit, kita maju merebut kembali kejayaan kita pada tingkat nasional, Asia maupun pada akhirnya nanti dunia.
-- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Coba tanyakan negara mana yang menjadi tolok ukur sepak bola dunia saat ini? Banyak yang tentunya menjawab Inggris, dengan indikator kompetisi sepak bola negara ini paling teratur dari tingkat amatir hingga hingga Liga Premier yang dihuni banyak pemain-pemain terbaik di dunia saat ini.

Namun, coba tanyakan pada rakyat Inggris apakah mereka merasa negara mereka terbaik di sepak bola saat ini? Kalau mereka menjawab ya, mereka akan menjadi bahan cemooh bangsa-bangsa pesaing mereka, seperti Belanda, Perancis, dan (terutama) Jerman. Kalau ukurannya Piala Dunia, Inggris tidak pernah berprestasi baik lagi sejak menjadi juara dunia pada 1966 dan masuk semifinal pada 1990. Begitu pun di Piala Eropa.

Tetapi Belanda, dengan kompetisi Eredivisie yang tidak menarik, justru lolos ke babak final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Sementara Jerman dengan Bundesliga dan pemain buangan macam Ruud van Nistelrooy, Franck Ribery, dan Raul Gonzalez justru menjadi negara dengan prestasi paling konsisten di tiga Piala Dunia terakhir dengan selalu lolos ke semifinal.

Artinya, bagi setiap bangsa, prestasi timnas menjadi tolok ukur abadi atau mutlak dari maju mundurnya sepak bola negara tersebut. Seberapa meriahnya pun kompetisi lokal, tetapi apabila timnas keok terus, maka bangsa itu akan selalu menjadi bahan cemooh. Sementara publik Amerika yang mungkin tidak peduli dengan kompetisi lokal dapat histeris dan bersemangat mendukung timnas mereka yang berlaga di Piala Dunia.

Terpuruknya prestasi timnas Indonesia inilah yang menjadi titik pemicu lahirnya Buku Putih Sepak Bola ini. Di ajang SEA Games 2009, Indonesia terpuruk menjadi juru kunci grup dikalahkan Myanmar 1-3 dan Laos 1-2. Ironisnya, banyak yang tak peduli. Suatu sikap yang seharusnya menjadi indikator dari matinya masyarakat sepak bola Indonesia.

Buku ini diharapkan menjadi suatu langkah awal diluruskannya kembali paradigma sepak bola Indonesia. Kalau masyarakat tidak peduli pada prestasi timnas, buat apa sepak bola dijalankan di suatu negara? Sepak bola hanya akan menjadi tumpuan kepentingan sekelompok orang yang mencari keuntungan dari olahraga itu sendiri. Baik itu pemain, pengurus, wasit maupun panitia pelaksana pertandingan, semuanya memanfaatkan histeria massa terhadap sepak bola.

Buku Putih Reformasi Sepak Bola Indonesia ini diterbitkan oleh gerakan Reformasi Sepak Bola Nasional Indonesia yang digagas oleh pengusaha dan politisi senior, Arifin Panigoro. Arifin agaknya memilih kata reformasi karena masih berharap perubahan akan terjadi secara perlahan-lahan bersamaan dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat luas betapa kronisnya kondisi persepakbolaan nasional.

Seperti layaknya buku putih, buku ini menggambarkan hal-hal yang tidak terungkap di media massa umum atau mungkin terlewatkan oleh awam. Masalah-masalah seperti suap, mafia wasit, penyalahgunaan kekuasaan sebagai hak prerogatif, budaya kekerasan, kejanggalan dalam kontrak pemain, sampai intervensi polisi dalam kompetisi sepak bola nasional diungkap. Bahkan, buku ini juga mengungkapkan kasus-kasus hukum yang menimpa para pengurus PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid.

Namun, buku ini juga mengungkapkan fakta positif, seperti survei yang memperlihatkan bagaimana populernya sepak bola nasional sebagai tontonan, baik secara langsung maupun sebagai hiburan olahraga di televisi.

Gerakan reformasi ini juga memberi jalan keluar secara komprehensif menyangkut pendanaan, pembinaan, hingga penataan organisasi. Untuk melakukan perubahan tersebut, Gerakan Reformasi menawarkan lima pilar strategi menuju Liga Indonesia Baru yang menyangkut quality, atmosphere, community, local brands, dan visibility.

Pilar pertama, quality, menyangkut perlunya kompetisi dengan standar tinggi yang meliputi pamin terbaik di Indonesia atau dunia, pemain keturunan Indonesia di Liga Eropa, dan penggunaan wasit asing berstandar FIFA.

Pilar kedua, atmosphere, sepak bola Indonesia harus menciptakan atmosfer sebagai tontonan yang aman dan nyaman buat keluarga. Karena itulah, suasana konfrontatif dan tindak kekerasan harus dijauhkan dari stadion.

Pilar ketiga, community. Sepak bola dapat eksis karena adanya dukungan dari komunitas sepak bola, masyarakat luas. Karena itu, diperlukan dorongan yang bisa lebih memacu animo masyarakat terhadap kompetisi lokal melalui kampanye pemain profesional di tingkat akar rumput serta komitmen pada program sosial, terutama kepada pendidikan masyarakat.

Pilar keempat, local brands. Hal ini sebenarnya sudah dilakukan beberapa klub, tetapi belum ada hal yang baku. Local brands ini diadopsi klub-klub baru atau menjadi sesuatu yang inheren atau melekat pada klub-klub lama.

Pilar kelima, visibility. Hal ini diperlukan untuk menjamin kelangsungan Liga Indonesia dan penyebarannya. Administrator liga harus mampu melakukan riset untuk menjamin daerah yang paling tepat untuk mendirikan sebuah klub sepak bola.

Strategi pembinaan yang menekankan pada kelompok umur memang lagu lama, tetapi tetap relevan. Pembinaan usia dini inilah yang menurut buku ini selama tujuh tahun ini terbengkalai dan tidak dianggap penting. Akibatnya, kesinambungan pasokan pemain ke level senior kerap tersendat dengan hilangnya bakat-bakat yang baik di tingkat usia dini atau remaja.

Mungkin tdiak ada yang baru dari buku putih ini. Namun, buku ini menjadi fenomenal karena lahir di saat masyarakat sudah sangat skeptis bahkan apatis terhadap sepak bola nasional.

Apalagi buku ini mendapat dukungan dari para penulis dan editor wartawan sepak bola senior dari beberapa media besar yang memang seharusnya menjadi ujung tombak perbaikan olahraga nasional. Memang seharusnya wartawan olahraga, khususnya sepak bola, harus menjadi pencerah dalam dark ages dunia sepak bola Indonesia ini. Di Kongres Sepakbola Nasional (KSN) di Malang, pada 30-31 Maret lalu, para wartawan sepak bola yang hadir belum berhasil untuk berperan banyak, tentunya karena adanya perbedaan kepentingan.

Lebih dari 30 tahun lalu, dengan tekanan media massa, PSSI mengadakan KLB yang menggantikan Ketua Umum Bardosono dan menaikkan nama Ali Sadikin. Dasar pemikirannya adalah kekecewaan masyarakat atas prestasi timnas PSSI yang terus merosot pascapenampilan gemilang di pra-Olimpiade 1976. Kita tunggu saja, perubahan memang sudah saatnya digerakkan.




Sang Pencerah ( Coming Soon)

Jogjakarta 1867 -1912:

Sepulang dari Mekah, Darwis muda (Ihsan Taroreh) mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah /sesat

Melalui Langgar / Surau nya Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) sehingga surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda.

Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut. Dengan ditemani isteri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman

Homepage : http://www.sangpencerahthemovie.com/

Pemain :
Lukman Sardi
Zaskia A. Mecca
Slamet Rahardjo
Giring Nidji
Ihsan Idol
Ikranegara
Sudjiwo Tedjo

review film Darah Garuda (Merah Putih II)

Epik penuh dengan action yang tegang dan dipotret dengan brilian oleh aktor-aktor berbakat papan atas Indonesia, film DARAH GARUDA adalah sebuah cerita mengenai kelompok heroik kadet yang bergerilya di pulau Jawa pada tahun 1947.

Terpecah oleh rahasia-rahasia mereka di masa lalu, dan konflik yang tajam dalam hal kepribadian, kelas sosial dan agama, keempat lelaki muda bersatu untuk melancarkan sebuah serangan nekat terhadap kamp tawanan milik Belanda, demi menyelamatkan para perempuan yang mereka cintai.

Para kadet ini terhubung dengan kantor pusat Jendral Sudirman dimana mereka diberi sebuah tugas sangat rahasia di belakang garis musuh di Jawa Barat: sebuah serangan gaya komando pada lapangan udara vital yang dapat membalikkan perlawanan para pemberontak melawan kezaliman yang telah dilakukan Jendral Van Mook pada Agustus 1947. Menembus dalam ke hutan, mereka bertemu dengan kelompok lain dari separatis Islam, juga sekutu baru maupun yang potensial berkhianat: mata-mata kolonial dengan pangkatnya sendiri dan sekutu orang-orang sipil dari jalanan; dan musuh lama yang bertanggung jawab atas intelijen Belanda.

Terkepung, baik oleh musuh dari luar maupun dari dalam, para pahlawan harus bersatu dan saling percaya karena mereka berjuang demi mengejar satu tujuan: Kemerdekaan.

Pemain :
Donny Alamsyah
Rahayu Saraswati
Lukman Sardi
T. Rifnu Wikana
Atiqah Hasiholan
Darius Sinathrya
Aryo Bayu
Rudy Wowor

atau ga kunjungi : http://www.merahputihthefilm.com/darahgaruda.com/index.html




guruku

Kau yang mengajariku
Kau yang mendidiku
Kau yang membimbingku
Itulah julukan
Guruku
Aku sangat kagum kepadamu
Kau rela berkorban demi murid-muridmu
Dan menungkan ilmu yang kau berikan

Oh guruku
Aku sangat berterimaksih kepadamu
Aku tak tahu bagaimana cara membayar jasa-jasamu
Semoga tuhan membayar jasa-jasamu yang lebih baik

Jumat, 13 Agustus 2010

kekesalan gua terhadap dia part 2

kejadiannya pas gua sd.
waktu itu gua diajakin sama dia, dan sodara gua ke tamini square nonton film di bioskop 21. Gua nonton bioskop cuman bawa duit 30.000, harga tiket nonton 15.ooo. Eeeh pas nyampe di bioskop sodara gua udah pesen tiket, dan udah bayar, terus gua suruh nungguin sama sodara gua kata dia, tapi sodara gua ga mau dan gua juga ga mau. masa gua nungguin 1 jam dibioskop dalam hati gua "ogah banget deh'. yaudah akhirnya ke carefour. Pada saat di carefour , dia bilang kesodara gua kyak gini ' BI, GANDENGIN FIRA TUH , FIRA ITU JALANNYA LEMOT, BIAR GA HILANG'. gua masih sabar dan sabar tuh. eh pas dicarefour gua cuman dibeliin aqua botol satu biji doang. katanya dia kayak gini "yaudah teteh beliin aqua botol doang, fira kamu ga usah beli makanan , duit kamu kurang, makanya bawa duit lebih biar bisa beli yang macem2'. Gua pengen nangis tuh, trus kata sodara gua bilang ke dia kyak gini ' teteh parah banget, mau nangis tuh fira'. trus kata si teteh kayak gini ' biarin aja, siapa suruh bawa duit kurang, udah ga usah nangis deh malu-maluin aja'. trus kata sodara gua kayak gini ' fir, mau gua pinjemin duit ga?', kata si teteh 'ga usah sya, ntar yang ada ga diganti lg'. yaudah abis blanja dari carefour ke bioskop 21. pas masuk ke ruang bioskop, film udah dimulai, pas gua nonton gua malahan nangis bukannya nonton. eh pas udah selesai gua dan sodara gua makan, trus si teteh bilang kayak gini ' aquanya minum dulu aja, ga usah beli2 lagi'. Eh pas pulang kerumah gua nangis lagi...............