Ketika para tikus negri mendapatkan azab darimu
Tubuh kaku dan lemah menggerogotimu
Bagaikan sebuah binatang yang dijemput ajalnya
Mulut termangap-mangap bagaikan ikan koi yang kelaparan
Berbagai cara di sekelilingmu dilakukan
Selang demi selang
Obat obatan yang memasuki tubuhmu
Kau hanya bisa menggunakan itu semua
Tuhan masih ingin memberikan kesempatan kepadamu
Ketika kau bisa bangkit dari itu semua
Rasa syukur tak pernah kau ucapkan
Dan sebuah pesta besar dan mewah kau lakukan
Hanya satu harapan dari kami
Kapan para tikus negri bisa mati?
Hanya waktu dan berputar yang bisa menjawab
Dunia Fira
'Berbagai Karya Tulisanku Ku Persembahkan Yang Terbaik'
Kamis, 28 Oktober 2010
Ketika para tikus negri menggerogoti duit kami
Berbagai kemewahan kau selalu dapatkan
Bagaikan tikus yang selalu tak puas
Dan tak mensyukuri
Berbagai perintah kau selalu buat
Semua perintah kau kami patuhi
Kami takut tak mematuhi perintah kau
Kami rela menghadapi itu semua
Begitu diut dari kami mengalir
Kau ada rencana otak keledi dibalik itu semua
Kau melanggar sumpah kau
Hanya lembaran demi lembaran duit
Hanya untaian kata 'Munafik'
Yang pantas untuk kau
Semua rakyat menangis
Karena perbuatan keji kau
Andai saja tak ada manusia seperti kau
Bumi pertiwi tak mendera seperti ini
Kami bisa hidup dengan makmur
Rakyat tak pilu hatinya
Sekolah kami tak seperti kandang hewan
Tak ada lagi kegelapan
Tak ada lagi kesengsaraan
Kami bisa tinggal bersama bumi pertiwi tercinta
Kami ingin mengeluarkan amarah kami kepada para tikus negri
Namun berbagai cara keledi kau lakukan
Kami hanya bisa berserah diri kepadamu tuhan
Semoga para tikus negri bisa menerima azab darimu
Berbagai kemewahan kau selalu dapatkan
Bagaikan tikus yang selalu tak puas
Dan tak mensyukuri
Berbagai perintah kau selalu buat
Semua perintah kau kami patuhi
Kami takut tak mematuhi perintah kau
Kami rela menghadapi itu semua
Begitu diut dari kami mengalir
Kau ada rencana otak keledi dibalik itu semua
Kau melanggar sumpah kau
Hanya lembaran demi lembaran duit
Hanya untaian kata 'Munafik'
Yang pantas untuk kau
Semua rakyat menangis
Karena perbuatan keji kau
Andai saja tak ada manusia seperti kau
Bumi pertiwi tak mendera seperti ini
Kami bisa hidup dengan makmur
Rakyat tak pilu hatinya
Sekolah kami tak seperti kandang hewan
Tak ada lagi kegelapan
Tak ada lagi kesengsaraan
Kami bisa tinggal bersama bumi pertiwi tercinta
Kami ingin mengeluarkan amarah kami kepada para tikus negri
Namun berbagai cara keledi kau lakukan
Kami hanya bisa berserah diri kepadamu tuhan
Semoga para tikus negri bisa menerima azab darimu
Aku mulai menyukai menulis, sejak aku didaftarin Lomba Blog Depok oleh Pak Slamet( Guru Bahasa Indonesia kelas aku). Aku mengikuti Lomba Blog Depok bersama dengan Pak Slamet penuh keyakinan untuk menang. Pertama kali aku membuat suatu karangan ancur banget!, Pak Slamet bimbing aku dengan kesabaran(hebatnya). Ketika pengumuman Lomba Blog Depok aku dan pak Slamet masuk 25 nominasi. Tetapi perjuangan kita terhenti di 25 nominasi. Perjalanan yang ku lalui mengikuti Lomba Blog Depok cukup berkesan. Aku mengakui tak bisa membuat karangan, namun Pak Slamet selalu menyemangati aku dan membimbing aku.
Setelah mengikuti Lomba Blog Depok, aku di daftarin untuk mengikuti lomba sayembara menulis cerpen dan lomba sayembara menulis puisi. Aku mengikuti lomba sayembara menulis cerpen dengan penuh semangat. Aku merasa jenuh, karena banyak banget untain demi untaian kritikan dari Pak Slamet namun itu tak jadi masalah bagiku. Perasaan aku sungguh gembira, karena aku bisa membuat karangan hingga 7 halaman kertas HVS. Mulai dari lomba inilah aku, belajar dari kesalahan pada saat membuat karangan dan aku mulai bisa belajar. Teman aku Bilkish, dia mau mengikuti lomba sayembara menulis cerpen tapi dia telah mengumpulkan naskahnya.
Lomba sayembara puisi, membuatku tak berhenti untuk berekspresi. Aku sempat bingung untuk membuat puisi ini. Sebenarnya aku juga engga mau mengikuti lomba puisi, karena aku juga ingin memberikan kesempatan kepada teman-temanku. Lagi-lagi aku disuruh ikutan tapi tak jadi masalah lah. Aku berusaha dan berusaha untuk membuat untaian demi untaian kata yang menghiasi puisi ini. Puisi karyaku jadi juga, perasaan aku sungguh gembira karena berhasil meyelesaikan puisi ini. Temanku Bilkish dia juga mengikuti lomba sayembara puisi.
Setelah mengikuti Lomba Blog Depok, aku di daftarin untuk mengikuti lomba sayembara menulis cerpen dan lomba sayembara menulis puisi. Aku mengikuti lomba sayembara menulis cerpen dengan penuh semangat. Aku merasa jenuh, karena banyak banget untain demi untaian kritikan dari Pak Slamet namun itu tak jadi masalah bagiku. Perasaan aku sungguh gembira, karena aku bisa membuat karangan hingga 7 halaman kertas HVS. Mulai dari lomba inilah aku, belajar dari kesalahan pada saat membuat karangan dan aku mulai bisa belajar. Teman aku Bilkish, dia mau mengikuti lomba sayembara menulis cerpen tapi dia telah mengumpulkan naskahnya.
Lomba sayembara puisi, membuatku tak berhenti untuk berekspresi. Aku sempat bingung untuk membuat puisi ini. Sebenarnya aku juga engga mau mengikuti lomba puisi, karena aku juga ingin memberikan kesempatan kepada teman-temanku. Lagi-lagi aku disuruh ikutan tapi tak jadi masalah lah. Aku berusaha dan berusaha untuk membuat untaian demi untaian kata yang menghiasi puisi ini. Puisi karyaku jadi juga, perasaan aku sungguh gembira karena berhasil meyelesaikan puisi ini. Temanku Bilkish dia juga mengikuti lomba sayembara puisi.
Senin, 27 September 2010
Masih Ada Museum Tak Punya Toilet
Sampai sekarang masih ada museum di Indonesia yang tidak punya fasilitas toilet umum. Kalau pun ada, kondisinya masih belum sesuai dengan standar yang diharapkan. Bahkan, yang mendapatkan Penghargaan Sapta Pesona, toiletnya kalau disamakan sistemnya dengan hotel berbintang, baru kelas bintang tiga. Belum bintang lima.
Kenyataan itu diungkapkan Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Firmansyah Rahim dan Juri Kehormatan Penghargaan Sapta Pesona Toilet Umum Besrih, Ny Triesna Wacik, Senin (27/9/2010) di Jakarta.
Dari 275 museum yang dikirimi undangan untuk mengikuti Lomba Toilet Bersih, yang ikut hanya 53 museum, dengan rincian 38 museum pemerintah dan 15 museum swasta/yayasan. Dari 53 museum peserta, hanya 51 yang dinilai. "Satu museum mengundurkan diri dan satu museum lagi tak bisa dinilai, yakni Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, di Palembang, Sumatera Selatan, karena tidak mempunyai fasilitas toilet," kata Firmansyah.
Triesna Wacik mengatakan, lima museum swasta/yayasan dan 10 museum pemerintah penerima Penghargaan Sapta Pesona, semuanya predikat cukup. "Ya, kelasnya baru bintang tiga, jauh dari kelas bintang lima. Pemberian penghargaan sebagai apresiasi serta untuk memotivasi para pengelola museum, dalam rangka menyukseskan Tahun Kunjungan Museum 2010," tandasnya.
Peringkat lima terbaik museum swasta yang peroleh Penghargaan Sapta Pesona adalah Museum Satwa, Malang, Jatim. Kemudian disusul, peringkat kedua, Museum Rahmat Internasional Wild Life, Medan. Di peringkat tiga, Museum Rudana, Ubud, Bali. Di posisi keempat Museum Rumah Budaya Tembi, DI Yogyakarta, dan peringkat lima Museum Ulen Sentalu, Sleman, DI Yogyakarta.
Untuk kategori museum pemerintah, peringkat 1-10 berturut-turut: Museum Gunung Api Batur (Kintamani, Bali), Museum Seni Rupa Keramin (DKI Jakarta), Museum Neheri La Galigo (Sulsel), Museum Perangko Indonesia (DKI Jakarta), Museum Bahari (DKI Jakarta), Museum 10 November Surabaya (Jatim), Museum Geologi Bandung (Jawa Barat), Museum Benteng Vredeburg (DI Yogyakarta), Museum Joeang 1945 (DKI Jakarta), dan Museum Sono Budoyo (DI Yogyakarta).
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, pengelolaan toilet umum bersih di tempat-tempat wisata seperti bandara, museum, dan obyek wisata selain meningkatkan mutu produk wisata sehingga memiliki daya saing, juga sebagai cerminan budaya dan jatidiri bangsa. "Gerakan toilet umum bersih merupakan gerakan pencitraan budaya dan jatidiri masyarakat Indonesia," ujarnya.
Menurut Wacik, Penghargaan Sapta Pesona semacam ini ke depan akan terus dilaksanakan, tidak hanya terbatas pada pengelola toilet umum di bandara dan museum, tetapi akan diperluas pada toilet di obyek dan daya tarik wisata. "Kalau toilet bersih, itu cerminan budaya bangsa dan citra pariwisata Indonesia yang berdaya saing.," katanya.
Kenyataan itu diungkapkan Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Firmansyah Rahim dan Juri Kehormatan Penghargaan Sapta Pesona Toilet Umum Besrih, Ny Triesna Wacik, Senin (27/9/2010) di Jakarta.
Dari 275 museum yang dikirimi undangan untuk mengikuti Lomba Toilet Bersih, yang ikut hanya 53 museum, dengan rincian 38 museum pemerintah dan 15 museum swasta/yayasan. Dari 53 museum peserta, hanya 51 yang dinilai. "Satu museum mengundurkan diri dan satu museum lagi tak bisa dinilai, yakni Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, di Palembang, Sumatera Selatan, karena tidak mempunyai fasilitas toilet," kata Firmansyah.
Triesna Wacik mengatakan, lima museum swasta/yayasan dan 10 museum pemerintah penerima Penghargaan Sapta Pesona, semuanya predikat cukup. "Ya, kelasnya baru bintang tiga, jauh dari kelas bintang lima. Pemberian penghargaan sebagai apresiasi serta untuk memotivasi para pengelola museum, dalam rangka menyukseskan Tahun Kunjungan Museum 2010," tandasnya.
Peringkat lima terbaik museum swasta yang peroleh Penghargaan Sapta Pesona adalah Museum Satwa, Malang, Jatim. Kemudian disusul, peringkat kedua, Museum Rahmat Internasional Wild Life, Medan. Di peringkat tiga, Museum Rudana, Ubud, Bali. Di posisi keempat Museum Rumah Budaya Tembi, DI Yogyakarta, dan peringkat lima Museum Ulen Sentalu, Sleman, DI Yogyakarta.
Untuk kategori museum pemerintah, peringkat 1-10 berturut-turut: Museum Gunung Api Batur (Kintamani, Bali), Museum Seni Rupa Keramin (DKI Jakarta), Museum Neheri La Galigo (Sulsel), Museum Perangko Indonesia (DKI Jakarta), Museum Bahari (DKI Jakarta), Museum 10 November Surabaya (Jatim), Museum Geologi Bandung (Jawa Barat), Museum Benteng Vredeburg (DI Yogyakarta), Museum Joeang 1945 (DKI Jakarta), dan Museum Sono Budoyo (DI Yogyakarta).
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, pengelolaan toilet umum bersih di tempat-tempat wisata seperti bandara, museum, dan obyek wisata selain meningkatkan mutu produk wisata sehingga memiliki daya saing, juga sebagai cerminan budaya dan jatidiri bangsa. "Gerakan toilet umum bersih merupakan gerakan pencitraan budaya dan jatidiri masyarakat Indonesia," ujarnya.
Menurut Wacik, Penghargaan Sapta Pesona semacam ini ke depan akan terus dilaksanakan, tidak hanya terbatas pada pengelola toilet umum di bandara dan museum, tetapi akan diperluas pada toilet di obyek dan daya tarik wisata. "Kalau toilet bersih, itu cerminan budaya bangsa dan citra pariwisata Indonesia yang berdaya saing.," katanya.
Petani Dayak Meratus Peduli Lingkungan
Masyarakat Suku Dayak yang tinggal di kawasan Pegunungan Meratus, yang merupakan bagian dari penduduk asli Kalimantan Selatan, terus mempertahankan cara bertani mereka yang memperhatikan lingkungan.
Cara bertani komunitas masyarakat adat terasing di kawasan Meratus Kalsel itu, selain sarat dengan nuansa ritual, mereka sangat menghormati kelestarian lingkungan.
Oleh karena itu, kata seorang tokok Dayak, kurang tepat kalau ada pihak yang menuduh masyarakat adat Dayak sebagai perusak lingkungan, seperti munculnya kabut asap sebagaimana terjadi beberapa tahun belakangan.
Memang komunitas dayak, yang oleh warga daerah hulu sungai atau "Banua Anam" Kalsel disebut orang bukit itu pada tempo dulu merupakan peladang berpindah.
Mereka, kata Adit, dulu selalu menebang hutan dan membakarnya untuk menyiapkan lahan untuk berladang. Mereka melakukan kegiatan itu untuk keperluan "manugal" atau menanam padi di lahan kering.
Namun sebagaimana, kata tokoh dayak di Harungan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel, itu, perputaran dalam sistem perladangan berpindah yang dilakukan pendahulunya itu minimal memakan waktu sekitar 15 tahun.
"Dengan kurun waktu 15 tahun atau lebih itu, bekas perladangan tersebut bisa menghutan kembali. Karena seiring ’manugal’, adat mengharuskan masyarakat menanam bibit pohon sebagai pengganti hutan yang ditebang," ujarnya.
Pepohonan tersebut berupa pohon yang bisa besar dan daunnya rimbun, seperti meranti dan ramin.
Pada umumnya, kata Adit, penanaman pepohonan jenis kayu hutan itu bercampur dengan tananam yang menghasilkan buah, seperti durian, kemiri, dan pohon langsat. Kelak, hasil hutan itu bisa berguna bagi generasi mendatang.
Menurut dia, ada pula yang menjadikan bekas ladang itu menjadi kebun karet, yang penanamannya bersamaan saat "menugal" atau saat lahan masih bersih dan sehabis panen padi.
Mengenai pembakaran lahan untuk persiapan berladang, kata Adit, warga Dayak tidak sembarangan. Sebelum melakukan pembakaran pepohonan yang mereka tebang, kata dia, terlebih dahulu melakukan penumpukan dan membuat sekat-sekat agar api tidak menjalar ke lain tempat.
Selain itu, sebelum melakukan pembakaran lahan, warga Dayak terlebih dahulu memperhitungkan waktu tibanya musim penghujan. "Pada menjelang musim penghujan tersebut, mereka melakukan pembakaran, sehingga kabut asap tidak menyebar ke mana-mana," kata Adit.
Untuk memperkirakan musim penghujan bakal tiba, kata dia, mereka melihat tanda-tanda alam, seperti letak bintang "haur bilah" (empat bintang dengan bentuk posisi seperti layang-layang) serta fenomena alam lainnya, antara lain sarang laba-laba dan pohon lurus (sungkai).
Wanang
Dalam kegiatan bertaninya, kata Adit, Dayak Meratus memiliki tradisi yang disebut "wanang" atau "bawanang", tradisi bersifat ritual berupa acara selamatan untuk memohon dan menyatakan syukur kepada Sang Hyang, yang menguasai dan mengatur alam semesta.
Sebagai contoh, sebelum "manugal", mereka terlebih dahulu mengadakan acara selamatan yang disebut "wanang umang", selamatan sebelum benih padi dimasukan ke dalam lubang.
Kemudian menjelang panen, mereka terlebih dahulu mengadakan "wanang sambu", selamatan untuk memulai panen.
Ketika selesai panen dan padinya sudah masuk dalam "lulung", lumbung terbuat dari kulit kayu tahan hujan, mereka kembali mengadakan acara selamatan yang disebut "aruh ganal" atau kenduri besar-besaran.
Menurut Adit, sejak tempo dulu, masyarakat Dayak Meratus tak akan menikmati hasil panen pada tahun tersebut kecuali sesudah mengadakan selamatan.
Acara "bawanang" dipimpin seorang tokoh masyarakat Dayak yang memiliki ilmu tinggi dari kepercayaan mereka, yaitu pemuka agama yang disebut "balian" dan pelaksanaan kegiatan tersebut secara gotong-royong.
Pada acara "bawanang" selalu tak ketinggalan jenis makanan berupa "lamang", nasi ketan bakar dalam bumbung bambu.
Cara bertani komunitas masyarakat adat terasing di kawasan Meratus Kalsel itu, selain sarat dengan nuansa ritual, mereka sangat menghormati kelestarian lingkungan.
Oleh karena itu, kata seorang tokok Dayak, kurang tepat kalau ada pihak yang menuduh masyarakat adat Dayak sebagai perusak lingkungan, seperti munculnya kabut asap sebagaimana terjadi beberapa tahun belakangan.
Memang komunitas dayak, yang oleh warga daerah hulu sungai atau "Banua Anam" Kalsel disebut orang bukit itu pada tempo dulu merupakan peladang berpindah.
Mereka, kata Adit, dulu selalu menebang hutan dan membakarnya untuk menyiapkan lahan untuk berladang. Mereka melakukan kegiatan itu untuk keperluan "manugal" atau menanam padi di lahan kering.
Namun sebagaimana, kata tokoh dayak di Harungan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalsel, itu, perputaran dalam sistem perladangan berpindah yang dilakukan pendahulunya itu minimal memakan waktu sekitar 15 tahun.
"Dengan kurun waktu 15 tahun atau lebih itu, bekas perladangan tersebut bisa menghutan kembali. Karena seiring ’manugal’, adat mengharuskan masyarakat menanam bibit pohon sebagai pengganti hutan yang ditebang," ujarnya.
Pepohonan tersebut berupa pohon yang bisa besar dan daunnya rimbun, seperti meranti dan ramin.
Pada umumnya, kata Adit, penanaman pepohonan jenis kayu hutan itu bercampur dengan tananam yang menghasilkan buah, seperti durian, kemiri, dan pohon langsat. Kelak, hasil hutan itu bisa berguna bagi generasi mendatang.
Menurut dia, ada pula yang menjadikan bekas ladang itu menjadi kebun karet, yang penanamannya bersamaan saat "menugal" atau saat lahan masih bersih dan sehabis panen padi.
Mengenai pembakaran lahan untuk persiapan berladang, kata Adit, warga Dayak tidak sembarangan. Sebelum melakukan pembakaran pepohonan yang mereka tebang, kata dia, terlebih dahulu melakukan penumpukan dan membuat sekat-sekat agar api tidak menjalar ke lain tempat.
Selain itu, sebelum melakukan pembakaran lahan, warga Dayak terlebih dahulu memperhitungkan waktu tibanya musim penghujan. "Pada menjelang musim penghujan tersebut, mereka melakukan pembakaran, sehingga kabut asap tidak menyebar ke mana-mana," kata Adit.
Untuk memperkirakan musim penghujan bakal tiba, kata dia, mereka melihat tanda-tanda alam, seperti letak bintang "haur bilah" (empat bintang dengan bentuk posisi seperti layang-layang) serta fenomena alam lainnya, antara lain sarang laba-laba dan pohon lurus (sungkai).
Wanang
Dalam kegiatan bertaninya, kata Adit, Dayak Meratus memiliki tradisi yang disebut "wanang" atau "bawanang", tradisi bersifat ritual berupa acara selamatan untuk memohon dan menyatakan syukur kepada Sang Hyang, yang menguasai dan mengatur alam semesta.
Sebagai contoh, sebelum "manugal", mereka terlebih dahulu mengadakan acara selamatan yang disebut "wanang umang", selamatan sebelum benih padi dimasukan ke dalam lubang.
Kemudian menjelang panen, mereka terlebih dahulu mengadakan "wanang sambu", selamatan untuk memulai panen.
Ketika selesai panen dan padinya sudah masuk dalam "lulung", lumbung terbuat dari kulit kayu tahan hujan, mereka kembali mengadakan acara selamatan yang disebut "aruh ganal" atau kenduri besar-besaran.
Menurut Adit, sejak tempo dulu, masyarakat Dayak Meratus tak akan menikmati hasil panen pada tahun tersebut kecuali sesudah mengadakan selamatan.
Acara "bawanang" dipimpin seorang tokoh masyarakat Dayak yang memiliki ilmu tinggi dari kepercayaan mereka, yaitu pemuka agama yang disebut "balian" dan pelaksanaan kegiatan tersebut secara gotong-royong.
Pada acara "bawanang" selalu tak ketinggalan jenis makanan berupa "lamang", nasi ketan bakar dalam bumbung bambu.
Rabu, 22 September 2010
TV Sosial, Jejaring Sosial Masa Depan
JAKARTA, KOMPAS.com--Tampilan televisi seperti apa yang akan Anda lihat lima tahun mendatang ? Jawabnya, layar yang ada di ruang keluarga Anda nanti mungkin akan terdiri dari gabungan siaran televisi dan jejaring sosial online.
Minggu ini, CEO Google Eric Schmidt mengumumkan bahwa bulan depan Google TV akan siaran di AS.
Google bergabung dengan perusahaan-perusahan internet lainnya yang menginginkan mentransformasi kebiasaan menonton kita untuk menyatukan TV dengan fitur web interaktif.
Sejauh ini semua upaya itu menemui kegagalan.
Masalahnya, layanan seperti Apple TV dan Roku cenderung membiarkan kita hanya menerima konten berdasarkan permintaan dari internet, tanpa siaran langsung TV.
Lainnya seperti TiVo dan Microsoft juga menyajikan siaran TV langsung, tetapi hanya memiliki akses terbatas ke internet.
Google lalu mengklaim bisa menghadirkan siaran TV langsung dan akses tak terbatas ke internet sejak itu pertama kali dirilis.
Banyak peneliti dan analis teknologi mengatakan perubahan paling mendasar dari kebiasaan kita menonton TV akan muncul dari teknologi yang memungkinkan kita berbagi dan bersosialisasi melalui layar kaca kita.
Para pemenang dari pertempuran dalam merengkuh dominasi digital di ruang tengah rumah kita itu adalah pihak yang mampu menjabarkan bagaimana meraih sukses di jejaring-jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook.
New Scientist berbicara dengan beberapa aktivis dari revolusi TV sosial itu demi mendapatkan gambaran apa yang akan terjadi kemudian.
Piala Dunia
Alasan hadirnya TV sosial itu sederhana, yaitu memungkinkan orang dengan mudah berbagi dan mendiskusikan tayangan yang mereka tonton, tak peduli di manapun mereka berada, seperti merekomendasikan episode lanjutan serial "True Blood" atau ikut merayakan selebrasi gol dalam pertandingan sepakbola.
Beberapa orang berpikir mengenai menonton TV sebagai pengalaman pribadi, tapi menurut Marie-Jose Montpetit dari Massachusetts Institute of Technology yang mengembangkan sistem televisi sosial eksperimental Nextstream, sejak kelahiran TV. kita telah sering berbicara satu sama lain selama siaran. Dan kini kami menggunakan jejaring sosial online untuk hal yang sama.
"Server-server Twitter digunakkan di Piala Dunia karena orang saling bertukar pandangan mengenai hal itu," ujarnya.
TV sosial segera masuk buku panduan siaran TV, karena besarnya jumlah saluran yang begitu luas untuk dijelajahi, kata Greg Goldman dari Philo, aplikasi TV sosial yang diluncurkan Juli lalu.
Menurut satu penelitian tahun 2008 yang dilakukan Parks Associates yang bermarkas di Dallas, Texas, 20 persen orang AS menginginkan rekomendasi acara TV dari teman-temannya dan mengobrol dengan sesama penonton yang menggemari acara sama.
Seperempat dari mereka ini bahkan merasa senang berbagi pandangan mengenai konten tayangan yang mereka tonton.
Rating dan Komentar
Benih revolusi sosial ini sedang tumbuh. iPlayer dari BBC kini memungkinkan penggunanya memeringkat dan merekomendasikan program-program acara TV melalui jejaring sosial seperti Facebook.
Jaringan-jariang lain seperti Philo dan Tunerfish juga menggunakan jejaring seperti itu, tetapi lebih interaktif, dengan menekannkan komentar pada aplikasi telepon pintar.
Boxee lain lagi. Jaringan ini selangkah lebih maju dengan mengintegrasikan fitur sosial dan video di layar yang sama melalui media player dalam komputer.
Namun, konten-konten menjadi demikian terbatas untuk situs-situs berbasis permintaan online seperti Netfix.
Dari sini terbetang rintangan bagi TV sosial, yakni ketersediaan konten.
Lembaga-lembaga siaran tidak suka mengalihkan program-program acara mereka ke TV sosial tanpa mendapatkan jaminan pemasukkan yang nyata, kata Montpetit.
Kendati begitu, TV sosial mampu membuat itu semua memudahkan para pengiklan menyasar kelompok sosial tertentu, tegas Goldman.
Isu besar lainnya adalah Desain. Penelitian terhadap pengguna menunjukkan, orang tak menyukai komentar sembarangan di layar mereka, ujar Montpetit.
Solusi yang ditawarkan Nextstream adalah menggunakan telepon pintar layar sentuh untuk mengendalikan TV, dan membaca atau menulis komentar.
Google telah jauh berpikir ke depan mengenai apakah TV sosialnya itu akan menyertakan pula jejaring sosial, tapi Google meyakinkan orang bahwa Jinni.com - situs yang menciptakan tema banyak saluran TV lewat umpan balik dari pengguna online- tengah membidik layanan yang sama. (*)
Minggu ini, CEO Google Eric Schmidt mengumumkan bahwa bulan depan Google TV akan siaran di AS.
Google bergabung dengan perusahaan-perusahan internet lainnya yang menginginkan mentransformasi kebiasaan menonton kita untuk menyatukan TV dengan fitur web interaktif.
Sejauh ini semua upaya itu menemui kegagalan.
Masalahnya, layanan seperti Apple TV dan Roku cenderung membiarkan kita hanya menerima konten berdasarkan permintaan dari internet, tanpa siaran langsung TV.
Lainnya seperti TiVo dan Microsoft juga menyajikan siaran TV langsung, tetapi hanya memiliki akses terbatas ke internet.
Google lalu mengklaim bisa menghadirkan siaran TV langsung dan akses tak terbatas ke internet sejak itu pertama kali dirilis.
Banyak peneliti dan analis teknologi mengatakan perubahan paling mendasar dari kebiasaan kita menonton TV akan muncul dari teknologi yang memungkinkan kita berbagi dan bersosialisasi melalui layar kaca kita.
Para pemenang dari pertempuran dalam merengkuh dominasi digital di ruang tengah rumah kita itu adalah pihak yang mampu menjabarkan bagaimana meraih sukses di jejaring-jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook.
New Scientist berbicara dengan beberapa aktivis dari revolusi TV sosial itu demi mendapatkan gambaran apa yang akan terjadi kemudian.
Piala Dunia
Alasan hadirnya TV sosial itu sederhana, yaitu memungkinkan orang dengan mudah berbagi dan mendiskusikan tayangan yang mereka tonton, tak peduli di manapun mereka berada, seperti merekomendasikan episode lanjutan serial "True Blood" atau ikut merayakan selebrasi gol dalam pertandingan sepakbola.
Beberapa orang berpikir mengenai menonton TV sebagai pengalaman pribadi, tapi menurut Marie-Jose Montpetit dari Massachusetts Institute of Technology yang mengembangkan sistem televisi sosial eksperimental Nextstream, sejak kelahiran TV. kita telah sering berbicara satu sama lain selama siaran. Dan kini kami menggunakan jejaring sosial online untuk hal yang sama.
"Server-server Twitter digunakkan di Piala Dunia karena orang saling bertukar pandangan mengenai hal itu," ujarnya.
TV sosial segera masuk buku panduan siaran TV, karena besarnya jumlah saluran yang begitu luas untuk dijelajahi, kata Greg Goldman dari Philo, aplikasi TV sosial yang diluncurkan Juli lalu.
Menurut satu penelitian tahun 2008 yang dilakukan Parks Associates yang bermarkas di Dallas, Texas, 20 persen orang AS menginginkan rekomendasi acara TV dari teman-temannya dan mengobrol dengan sesama penonton yang menggemari acara sama.
Seperempat dari mereka ini bahkan merasa senang berbagi pandangan mengenai konten tayangan yang mereka tonton.
Rating dan Komentar
Benih revolusi sosial ini sedang tumbuh. iPlayer dari BBC kini memungkinkan penggunanya memeringkat dan merekomendasikan program-program acara TV melalui jejaring sosial seperti Facebook.
Jaringan-jariang lain seperti Philo dan Tunerfish juga menggunakan jejaring seperti itu, tetapi lebih interaktif, dengan menekannkan komentar pada aplikasi telepon pintar.
Boxee lain lagi. Jaringan ini selangkah lebih maju dengan mengintegrasikan fitur sosial dan video di layar yang sama melalui media player dalam komputer.
Namun, konten-konten menjadi demikian terbatas untuk situs-situs berbasis permintaan online seperti Netfix.
Dari sini terbetang rintangan bagi TV sosial, yakni ketersediaan konten.
Lembaga-lembaga siaran tidak suka mengalihkan program-program acara mereka ke TV sosial tanpa mendapatkan jaminan pemasukkan yang nyata, kata Montpetit.
Kendati begitu, TV sosial mampu membuat itu semua memudahkan para pengiklan menyasar kelompok sosial tertentu, tegas Goldman.
Isu besar lainnya adalah Desain. Penelitian terhadap pengguna menunjukkan, orang tak menyukai komentar sembarangan di layar mereka, ujar Montpetit.
Solusi yang ditawarkan Nextstream adalah menggunakan telepon pintar layar sentuh untuk mengendalikan TV, dan membaca atau menulis komentar.
Google telah jauh berpikir ke depan mengenai apakah TV sosialnya itu akan menyertakan pula jejaring sosial, tapi Google meyakinkan orang bahwa Jinni.com - situs yang menciptakan tema banyak saluran TV lewat umpan balik dari pengguna online- tengah membidik layanan yang sama. (*)
Candi di Padang Lawas Kurang Perawatan
MEDAN, KOMPAS.com--Keberadaan situs-situs bersejarah berupa candi di Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara, Sumatera Utara terkesan kurang mendapat perawatan, yang ditandai dengan banyaknya tumbuh ilalang dan berbagai rumput liar di areal situs-situs tersebut.
"Bahkan hewan peliharaan seperti kerbau dengan seenaknya ditambatkan di badan candi yang sudah berwarna hitam, berlumut dan ditumbuhi tumbuhan parasit," kata staf peneliti Pusat Studi Ilmu Sosial dan Sejarah (Pussis) Universitas Negeri Medan, Erond Damanik di Medan, Senin.
Ia mengatakan, di Kabupaten Padang lawas dan Padang Lawas Utara terdapat sebelas candi yang dalam bahasa setempat disebut juga dengan "biaro" peninggalan abad 11-14 Masehi.
Kesebelas candi tersebut yakni Biaro Bahal I, Biaro Bahal II, Biaro Bahal III, Biaro Sitopayan, Biaro Bara, Biaro Pulo, Biaro Sipamutung, Biaro Tandihat I, Biaro Tandihat II, Biaro Sisangkilon dan Biaro Manggis.
Empat diantaranya, yakni Biaro Bahal I, II, III dan Sipamutung sudah pernah dipugar pada tahun 1991 oleh Gubernur Sumut saat itu, Raja Inal Siregar.
"Namun sayangnya apresiasi terhadap candi-candi itu dewasa ini semakin berkurang. Belum lagi pada biaro-biaro yang belum dipugar, kondisinya sangat memprihatinkan karena bisa terancam hilang akibat diserobot masyarakat menjadi lahan pertanian," katanya.
Menurut dia, batubata kontruksi utama beberapa candi sebagian sudah berlepasan dan keropos akibat bebasnya pengunjung menginjak badan candi.
Misalnya saja pada Biaro Bahal I, ternyata bila diamati secara serius akan didapati kondisinya yang sudah miring.
Selain itu, yang paling memprihatinkan adalah akses menuju beberapa lokasi candi yang sangat rusak. Kondisi jalan menuju candi Bahal I dan II sudah pernah diaspal tapi kini berlobang sangat parah.
Sementara akses menuju Bahal III sama sekali terbuat dari batu-batu sungai, belum diaspal, berlubang, berlumpur waktu hujan dan berdebu waktu kemarau.
Begitu juga akses menuju Biaro Tandihat I dan II sama sekali belum beraspal atau masih jalan tanah.
"Sangat dibutuhkan apresiasi pemerintah khususnya kabupaten terkait dalam upaya pelestarian aset sejarah itu, terutama dalam menjadikannya sebagai objek destinasi wisata sejarah," katanya.
"Bahkan hewan peliharaan seperti kerbau dengan seenaknya ditambatkan di badan candi yang sudah berwarna hitam, berlumut dan ditumbuhi tumbuhan parasit," kata staf peneliti Pusat Studi Ilmu Sosial dan Sejarah (Pussis) Universitas Negeri Medan, Erond Damanik di Medan, Senin.
Ia mengatakan, di Kabupaten Padang lawas dan Padang Lawas Utara terdapat sebelas candi yang dalam bahasa setempat disebut juga dengan "biaro" peninggalan abad 11-14 Masehi.
Kesebelas candi tersebut yakni Biaro Bahal I, Biaro Bahal II, Biaro Bahal III, Biaro Sitopayan, Biaro Bara, Biaro Pulo, Biaro Sipamutung, Biaro Tandihat I, Biaro Tandihat II, Biaro Sisangkilon dan Biaro Manggis.
Empat diantaranya, yakni Biaro Bahal I, II, III dan Sipamutung sudah pernah dipugar pada tahun 1991 oleh Gubernur Sumut saat itu, Raja Inal Siregar.
"Namun sayangnya apresiasi terhadap candi-candi itu dewasa ini semakin berkurang. Belum lagi pada biaro-biaro yang belum dipugar, kondisinya sangat memprihatinkan karena bisa terancam hilang akibat diserobot masyarakat menjadi lahan pertanian," katanya.
Menurut dia, batubata kontruksi utama beberapa candi sebagian sudah berlepasan dan keropos akibat bebasnya pengunjung menginjak badan candi.
Misalnya saja pada Biaro Bahal I, ternyata bila diamati secara serius akan didapati kondisinya yang sudah miring.
Selain itu, yang paling memprihatinkan adalah akses menuju beberapa lokasi candi yang sangat rusak. Kondisi jalan menuju candi Bahal I dan II sudah pernah diaspal tapi kini berlobang sangat parah.
Sementara akses menuju Bahal III sama sekali terbuat dari batu-batu sungai, belum diaspal, berlubang, berlumpur waktu hujan dan berdebu waktu kemarau.
Begitu juga akses menuju Biaro Tandihat I dan II sama sekali belum beraspal atau masih jalan tanah.
"Sangat dibutuhkan apresiasi pemerintah khususnya kabupaten terkait dalam upaya pelestarian aset sejarah itu, terutama dalam menjadikannya sebagai objek destinasi wisata sejarah," katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)