Dunia Fira
'Berbagai Karya Tulisanku Ku Persembahkan Yang Terbaik'

Jumat, 06 Mei 2011

Simfoni Laskar Putih Biru

Langit biru menggema
Awan berlari menghias angkasa
Detik menjadi waktu
Hari menjadi bulan

Bulan menjadi tahun
Pluit bersenandung diangkasa
Tibalah disaat terakhir kita
Ujung tanduk masa putih biru

Jiwa raga yang dulu bersama
Pundi-pundi emas dan hamparan biru
Kini membuka mata kita
Mencari tombak mengarungi samudra

Terbangkan sayap ke awan
Dulu putih biru serasa hidup dan mati
Kini dirangkum dalam sebuah simfoni laskar putih biru

Untuk kawan, bapak ibu guru
Ku ucapkan terimakasih dan selamat jalan
Kalian yang menghiasi detik demi detik masa putih biruku
Tak ada yang mengalahkan kenangan dan kehangatan bersama kalian

Karya : Shafira Budiningsih

Disaat Masa Terakhir

Saat yang kita tunggu
Dimana kita hadapi
Dengan mengalir derasnya air mata
Dan kepiluan yang sangat berarti

Dulu sampaikan nada pilu
Yang sangat berarti dan begitu keras
Perjuangan yang kita lalui selama 3 tahun
Tibalah disaat pertemuan terakhir kita

Perpisahan.....
Tak ada lagi kicauan suka dan cita
Kehangatan dan kebersamaan kita
Kini tinggal kenangan

Kawan, ku ucapkan selamat berpisah
Mungkin kita bertahun-tahun tak bisa melihat
Wajah kita yang berbinar-binar dan penuh pesona
Meski hanya sebatas pertemuan senja

Kini terbang melayang menuju kesuksesan
Tuhan andaikan detik itu kan bergulir kembali
Kita rindu akan suasana
Membasuh jiwa raga kita

karya : Shafira Budiningsih

Jumat, 04 Maret 2011

satu tahun bersama 9F

Tak terasa sudah satu tahun bersama 9F. Perasaan suka dan duka sudah dilewati bersama-sama. Hal yang gua sukain dari 9F, kalau nge-gosip enak aja pada nyambung banget, kerja samanya kompak, dan hal yang gua engga pernah dilupakan nge-frontalin orang w/9F. Bahkan, para guru-guru tau loh kalau 9F kelas gosip. Ada juga guru setiap jam pelajarannya dia sering banget mencurahkan isi hatinya dikelas 9F.


Kamis, 27 Januari 2011

Kembali ke Index Topik Pilihan PEMBAGIAN BUKU SBY Buku SBY dan Peliknya Persoalan Buku

JAKARTA, KOMPAS.com — Pembagian buku-buku tentang sosok, pemikiran, dan kiprah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan dana alokasi khusus pendidikan dinilai tidak mendahulukan prioritas utama pendidikan. Pembagian buku tersebut dinilai telah menyakiti hati orangtua murid yang selama ini merasakan bahwa persoalan buku masih merupakan persoalan pelik karena harus dibeli dengan uang.

Demikian ditegaskan Ade Irawan, Koordinator Divisi Monitoring Indonesia Corruption Watch (ICW) di Jakarta, Kamis (27/1/2011), menyikapi penggunaan dana alokasi khusus (DAK) buku SMP di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, untuk membagi-bagikan buku tentang SBY tersebut.


Ade mengatakan, uang dari DAK semestinya bertujuan untuk semakin meningkatkan kualitas pelaksanaan wajib belajar sembilan tahun.

"Ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, ini jelas lebih pada persoalan politik. Kedua, potensi korupsinya. Dari sini sudah terlihat jelas bahwa pendidikan kita masih dijadikan alat kepentingan politik. Mau dibantah bagimanapun, acara bagi-bagi buku ini untuk kepentingan politik. Tinggal nanti, siapa yang harus tanggung jawab," kata Ade kepadaKompas.com.

Sebelumnya diberitakan, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, menyatakan tidak akan menarik buku-buku tentang sosok, pemikiran, dan kiprah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari sekolah. Hal itu karena buku-buku tentang SBY dinilai telah sesuai dengan spesifikasi pemerintah.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Tegal Edy Pramono mengatakan hal itu saat pertemuan dengan Dewan Pendidikan dan Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal, Rabu (26/1/2011).

Menurut Edy, spesifikasi pengadaan buku DAK untuk SMP memang tidak menyebut judul buku. Buku-buku SBY bisa masuk ke sekolah karena telah lolos penilaian Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional.


Selasa, 11 Januari 2011

Karma Diantara Ibu Part 1

Mentari pagi sudah terbit. Hari ini terasa galau yang sangat mendera, terasa beda dari biasanya. Rumah ini terasa bergoyang tak beraturan, Tia tercemburut tiada arah melintang.

“Tiaaaa, bantuin ibu angkatin pakaian” sahut Ibu

“Eh nenek tua, gua lagi gendong anak gua lu engga lihat ya?” sambung Tia

“Lu jadi anak durhaka banget ya, jangan belagu deh lu!!!” kata Ibu

“BODO!!! Rasanya gua pengen ngontrak rumah biar bebas dari lu!!!” timpal Tia

Ibu hanya termenung sambil meneteskan air mata. Dalam hati ibu yang mendalam “Ya Allah kenapa putri kesayanganku bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu menyayat hatiku. Berilah kesadaran ya allah”.

Tia menatap ibu dengan tatapan sinis. Dia berbicara ke anaknya “Nak, lihatlah nenekmu, lagi gila ya menangis sendirian haha”. Tia berjalan menuju keluar rumah, Yati menatap Tia.

“Lu kenapa ngelihatin gua sinis banget?” sahut Tia

“Oh, gapapa” timpal Yati

“Jagain anak gua dulu ya si Keenan” sambung Tia

“Ogah banget, emang lu siapa gua!!!” kata Yati

“Baru jadi pembantu belagu banget lu!!!” timpal Tia

Yati terdiam sejenak, perkataan yang Tia tadi ucapkan sungguh membuat hati Yati merenduh kesakitan. Tubuh Yati lemas seperti tiada daya, sambil mengusap keringat yang melumuri tubuhnya.

Ibu keluar dari rumah menuju ke dapur pribadi. Perasaan hari ini sungguh menyayat hati.

“Wi, lu kenapa?” ucap Ike

“Gapapa” timpal Wiwik

Sambil menggoreng lauk-pauk untuk makan malam, Tia langsung marah-marah kepada Ibu.

“Eh nenek tua, kok goreng tahunya sedikit banget” ucap Tia

“Kalau mau goreng lagi lah” sambung Ibu

“Lu pikun banget sih, anak lu cuman Rieke, Rieke, dan Rieke ya pantesan!!!” sambung Tia

Ibu hanya bisa terdiam sejenak, dia terasa ingin meluapakan amarahnya. Namun dia beusaha untuk sabar dan menahan rintihan ini. Tia langsung mengambil air dan meyiram ke tubuh Ibunya.

“Eh anak kurang ajar durhaka banget” ucap Ibu

“Nenek tua gua sudah engga sudi banget tinggal sama lu!!” sambung Tia

“Brengsek banget lu ya!!! Gua tahu gua emang nenek tua harusnya lu bisa jadi anak yang baik!!!” kata Ibu

“BODO BIARIN AJA!!!” timpal Tia

Di dapur terjadi sebuah keributan besar, semua tetangga berusaha melerai antara Ibu dan Tia. Tiba-tiba Rizal datang langsung melihat Tia dengan tatapan serius. Tia langsung mengejar Rizal “EH ANAK GILA NGAPAIN SIH LU NGELIHATIN GUA!!!”, sambil berkejaran dengan bercucuran keringat. Tiba di rumah Rizal Tia langsung memberi tahukan kepada Ibunya Rizal “Umi Rizal nakal”.

Semua tetangga menatap heran dan terkejut sambil menggelengkan kepala. Ibunya Rizal keluar dengan muka hampa dan lemas. Para tetangga langsung pergi dari tempat kejadian dan berjalan santai menikmati indahnya sore hari. Tia langsung berlari menuju kerumah sembari menahan rasa malu yang menderanya.

Masalah ini tersebar hingga seluruh tetangga tahu. Para tetangga sungguh takut ketika harus bertatapan langsung dengan Tia. Dalam lubuk hati Tia “Yes tetangga pada takut sama gua, biar pada tahu rasa engga menyepelekan gua lagi”. Pak Tio datang kerumah, untuk mengurus KTP barunya.

“Tia, ada Ibu engga?” ucap Pak Tio

“Ada apa ya?” sambung Tia

“Saya mau mengurus KTP baru” timpal Pak Tio

“Oh maaf Ibu lagi engga ada, lagi keluar deh”

Padahal Ibu ada di rumah, tapi Tia membohongi Pak Tio. Pak Tio sebenarnya sudah curiga antara Ibu dan Tia, lalu Pak Tio menanyakan kepada tetangga disekitar rumah Ibu.

“Bu Darra saya mau tanya, Bu RT emang engga ada dirumah ya?” sahut Pak Tio

“Ada di rumah Pak” sambung Bu Darra

“Tapi kata Tia engga ada di rumah?” sambung Pak Tio

“Bohong itu pak, Bu RT sama Tia lagi marahan pak” kata Bu Darra

“Oh makasih ya Bu” timpal Pak Tio

Emosi Pak Tio langsung membludak tanpa arah melintang. Pak Tio sungguh kesal karena sudah dibohongi.

Hari sudah malam, Tia mentimang-timang Keenan dengan rasa penuh kasih sayang. Sambil menunggu bapak pulang, dia menyiapkan lauk-pauk untuk makan malam. Ketika menuju ke kamar, perasaaan Tia sungguh kaget karena Keenan gelinding kebawah. "HAH Keenan anakku!!", perasaan Tia sungguh kaget hingga jantung berdetak-detak tiada arah melintang. Dia berusaha menenangkan Keenan supaya tidak menangis lagi.

"Aku sangat bodoh sekali!!! kenapa hal ini bisa terjadi, untung Keenanku sayang tidak kenapa-kenapa" ucap Tia dalam hati.

Rabu, 22 Desember 2010

Gua sekarang emang suka banget yang namanya menulis. Bagi gua, menulis merupakan ungkapan ekspresi jiwa yang kita tuangkan dalam kata demi kata. tapi gua juga benci, ada yang bilang profesi jadi penulis dipandang sebelah mata.

Kata guru gua "Jika kamu benar-benar niat jadi penulis, kamu harus siap nerima siap kritikan dari orang-orang". Gua bakal ingat selalu kata-kata itu...

Senin, 06 Desember 2010

Mobil Merah

Pasti kalian setiap hari melihat mobil merah yang menghiasi jalan raya. Yang terkadang menaikan dan menurunkan penumpang sembarangan. Pasti yang menjadi supir mobil merah dengan beraneka ragam sifat.

Kisah gua dengan si mobil merah

Gua sama Inama (teman SD gua) mau kerumah Linda, terus gua bawa motor. Eee...... pas kita mau menyebrang ke jalan raya, dari kejauhan si mobil merah 02 jalanya agak pelan. Kita mulai menyebrang melewati berjuta-juta mobil, terus pas kita mau nyebrang si mobil merah 02 langsung ngebut (bukan dari berlawanan arah) jarak motor gua dengan mobil merah tipis banget. Eeee, si supir angkot 02 bilang kayak gini

"Ah dasar lu, BEGO banget kalau ga bisa bawa motor kagak usah kejalan raya" ucap supir angkot
" Hallo mata lu buta yak, gua itu mau nyebrang lu dari kejauhan jalannya agak pelan. Yaudah kita nyebrang, belagu lu baru jadi supir angkot jangan makan "BABS" jadinya kayak kembaran lu deh" timpal gua

Tuh supir angkot langsung keluar dari mobil angkotnya, dengan tubuh yang besar seperti kingkong dan otot yang seperti karung goni. Eh dia mau ngajakin ribut gua sama Inama, terus kita langsung kabur dan tancap gas. Kita dari kejauhan masih melihat supir angkot yang menabrak kita tadi. Dalam hati gua yang mendalam "ngapain tuh supir nungguin kita berdua, mau ngajakin ribut lagi. Dasar supir aneh".